Webinar Internasional Gelombang Protes Rasisme dan Konstelasi Politik Amerika Serikat Menjelang Pemilu 2020

Universitas Jember kembali menyelenggarakan webinar Internasional di masa pandemi Covid-19 ini. Pada hari Selasa tanggal 21 Juli 2020 dengan pembicara dari Amerika Serikat yaitu HE. Professor Stanley Harsa yang merupakan mantan Diplomat Amerika Serikat. Selain pembicara dari luar negeri, terdapat pula pembicara internal yaitu Abubakar Eby Hara, M.A., Ph.D. yang merupakan dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jember (UNEJ).. Webinar Internasional tersebut mengangkat tema “Gelombang Protes Rasisme dan Konstelasi Politik Amerika Serikat Menjelang Pemilu 2020”. Internasional Webinar ini dilaksanakan melalui Akun Zoom Universitas Jember dan disiarkan secara Live Streaming melalui akun YouTube UNEJ Official. Adapun total peserta yang tergabung dalam acara Webinar ini adalah 160 orang yang berasal dari berbagai background mulai dari peneliti, akademisi, mahasiswa maupun masyarakat umum.

Webinar Internasional tersebut membahas tentang situasi Amerika Serikat ditengah pandemic Covid-19 dan juga upaya pemerintah Amerika Serikat dalam menghadapi gelombang demonstransi yang menuntut anti rasisme atas kematian George Floyd pada 25 Mei 2020. Kematian Floyd dinilai sebagai bentuk rasisme yang terjadi pada kelompok masyarakat kulit hitam di Amerika Serikat. Lebih lanjut, sehari setelah kematian Floyd, demonstrasi besar terjadi di Minneapolis. Di lansir dari Kompas, aksi protes ribuan orang yang menentang rasisme berlangsung di 140 kota di Amerika Serikat, sebagian disertai bentrok antara warga sipil dengan polisi. Aksi memprotes rasialisme dan kematian Floyd selanjutnya juga terjadi ke Kanada, Inggris, Jerman, Belanda, Spanyol, Italia, serta Belgia. Ribuan orang menggelar aksi yang sama di Brasil, Tunisia, Afrika Selatan, Australia, hingga Jepang, Korea Selatan, Hong Kong dan sejumlah negara lain.

Di satu sisi, isu rasialisme dan diskriminasi telah menjadi masalah laten di Amerika Serikat sejak lama, tetapi hal itu belum pernah membuat aksi demontrasi besar seperti yang terjadi pada Mei 2020 lalu. Menurut beberapa pendapat, demontrasi yang terjadi atas kematian Floyd merupakan kombinasi banyak hal, termasuk ketimpangan ekonomi antara masyarakat kulit hitam dengan kulit putih di Amerika Serikat, situasi politik yang semakin memanas menjelang pemilu, dan cara kepemimpinan Presiden Donald Trump-yang sejak awal kepemimpinannya sering memunculkan rasisme. presiden Amerika Serikat Donald Trump menanggapi demontrasi anti rasisme yang terjadi dengan cara yang berbeda. Dilansir dari CNN, dalam sebuah rapat telekonferensi, Presiden Trump menganggap para gubernur negara bagian Amerika Serikat lemah dan tidak bisa mendominasi situasi serta para pengunjuk rasa. Di sisi lain, sikap ‘kaku’ Trump ini dimanfaatkan dengan baik oleh oposisinya, Joe biden-calon Presiden dari Partai Demokrat untuk pemilu Amerika Serikat November mendatang. Joe Biden dalam kampanyenya menawarkan sikap yang lebih moderat serta hal ini membuahkan kemenangan pada sembilan dari empat belas negara bagian dalam pemilihan pendahuluan.

Pemateri HE. Professor Stanley Harsa telah memaparkan reaksi dari mayoritas penduduk Amerika Serikat atas permasalahan rasisme. Menurut beliau masalah rasisme di Amerika Serikat merupakan warisan dari budaya masa lalu ketika orang kulit hitam menjadi budak. Pengalaman sejarah masa lalu ini kemudian menguatkan fenomena rasisme ditengah munculnya pandemi Covid-19. Masalah rasisme diperparah dengan kematian Flyod yang membuat isu ini masih berlanjut dan semakin memanas. Sementara itu, respon maupun reaksi pemerintah Amerika Serikat yang dinilai kurang tepat. Lebih lanjut, menurut Stanley penyelesaian masalah tersebut tergantung dari penyelesaian secara hukum, dimana pemerintah Amerika Serikat diharapkan dapat memberikan tindakanan nyata yang tegas untuk penyelesaiannya secara adil.

Pemateri kedua, Abubakar Eby Hara, M.A., Ph.D membahas tentang Anti-Racism Protests and US Politics: Lesson Learned for Indonesia memulai pembahasannya dengan menjelaskan akar dari rasisme yang terjadi di AS. Sejarah masa lalu AS menunjukkan bahwa ada mimpi akan ‘American Dream’ dimana mimpi ini merupakan berupa nilai-nilai persatuan dalam masyarakat AS yang multi ras maupun etnis.  Meskipun demikian, Bapak Eby menyampaikan bahwa dalam perjalanannya pembangunan bangsa dan negara adalah suatu proses yang kompleks sehingga negara adidaya seperti AS juga menghadapi hambatan untuk mewujudkan mimpi American Dream tersebut. Selain itu, masalah terkait gaya kepemimpinan kepala negara seharusnya dapat menyatukan, namun gaya kepemimpinan Trump saat ini dinilai membuat polarisasi sehingga kepercayaan dan rasa penghargaan terhadap perbedaan dalam masyarakat menjadi kurang. Kenyataan bahwa masyarakat AS saat ini telah terpolarisasi di bawah kepemimpinan Trump menjadi pembelajaran penting bagi pemerintah Indonesia khususnya dalam upaya untuk mewujudkan the Indonesian Dreams khususnya dalam menghadapi Pemilu Indonesia tahun ini.

Moderator webinar, Suyani Indriastuti. S.Sos., M.Si., Ph.D menyimpulkan bahwa rasisme di Amerika Serikat dapat diselesaikan dengan kekuatan masyarakat dan kesadaran dari mayoritas masyarakat melalui kekuatan komunitas serta peran aktif dari pemerintah Amerika Serikat untuk memperlakukan dan menyelesaikan isu rasisme dengan adil dan baik.

Bookmark the permalink.