JEMBER. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jember (UNEJ) memperkuat komitmen kolaborasi dengan Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas II Jember melalui sinergi akademik dan praktik pelayanan sosial yang berorientasi pada manfaat nyata bagi masyarakat. Pertemuan kolaboratif ini menjadi momentum untuk mempertemukan kekuatan perguruan tinggi, praktik pembimbingan kemasyarakatan, mahasiswa, serta kelompok masyarakat dalam membangun ekosistem pemberdayaan yang lebih responsif, inklusif, dan berkelanjutan. Dari FISIP UNEJ hadir Ibu Suyani Indriastuti, S.Sos., M.Si., Ph.D. selaku Dekan FISIP; Dr. Selfi Budi Helpiastuti, S.Sos., M.Si. sebagai Wakil Dekan I; Atik Rahmawati,S.Sos., M.Kesos., Ph.D. dan Chandra Eko Wahyudi Utomo, S.Si., M.T. sebagai tim kerjasama FISIP UNEJ; serta mahasiswa yang melaksanakan giat di BAPAS. Sementara dari Bapas Kelas II Jember hadir Bapak Muhammad Zulfikar,S.H., M.H. selaku Kepala BAPAS; Ibu Shinta Yuniar Hapsari, S.H. selaku Kaur Tata Usaha; Bapak Slamet Riyadi,S.H. selaku Kepala Sub Seksi Bimbingan Klien Dewasa; Bapak Hendro Suwignyo, S.H, selaku Kepala Sub Seksi Bimbingan Klien Anak, dan para Pembimbing Kemasyarakatan.
Kolaborasi tersebut semakin strategis dengan keterlibatan Ketua LKSA Bengkel Jiwa yaitu Bapak Wahyu Agus Permana, S.Sos. sebagai Kelompok Masyarakat Peduli Pemasyarakatan (Pokmas Lipas) yang selama ini menjadi mitra FISIP UNEJ dan BAPAS dalam pemberdayaan Anak Berkonflik dengan Hukum (ABH). Sinergi tiga unsur—perguruan tinggi, institusi pemasyarakatan, dan masyarakat—diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi berkembang menjadi model kolaborasi yang mengintegrasikan pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, praktik lapangan mahasiswa, serta pendampingan dan pemberdayaan bagi klien pemasyarakatan. Kehadiran mahasiswa di BAPAS sekaligus menjadi ruang pembelajaran kontekstual agar ilmu sosial dan politik dapat diterapkan untuk memahami persoalan sosial secara langsung serta merumuskan solusi bersama yang berbasis pada kebutuhan masyarakat.
Kolaborasi ini sejalan dengan arah strategis UNEJ yang memiliki misi menyelenggarakan pendidikan bereputasi internasional dengan mengedepankan glokalisasi inovasi IPTEKS dan karakter kebangsaan, menghasilkan glokalisasi inovasi melalui pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang kreatif, inovatif, dan adaptif, serta mengembangkan tata kelola yang transparan dan akuntabel. Pada tingkat fakultas, FISIP UNEJ menegaskan visi menjadi fakultas terkemuka, berintegritas, dan bereputasi internasional dalam inovasi di bidang sosial politik untuk mendukung agroindustri berkelanjutan, dengan misi antara lain menghasilkan glokalisasi inovasi sosial-politik melalui pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat serta meningkatkan kerja sama dengan pemerintah, dunia usaha dan dunia industri, lembaga pendidikan, dan lembaga riset. Dengan demikian, kemitraan FISIP UNEJ–BAPAS Kelas II Jember–Pokmas Lipas merupakan implementasi nyata dari mandat akademik sekaligus penguatan kemitraan strategis yang berorientasi pada penyelesaian persoalan sosial.
Dari perspektif kinerja perguruan tinggi, kolaborasi ini juga mendukung agenda Indikator Kinerja Utama (IKU) UNEJ, khususnya IKU 3 melalui keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan di luar program studi dan lingkungan kampus, IKU 5 melalui penguatan keluaran hasil kerja sama antara perguruan tinggi dan lembaga mitra, IKU 7 melalui kontribusi perguruan tinggi terhadap SDGs—terutama SDG 1 (Tanpa Kemiskinan), SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) – serta IKU 8 melalui peluang keterlibatan dosen dan penelitian dalam penyusunan kebijakan dan praktik pelayanan sosial. Dengan semangat “Gayung Bersambut”, FISIP UNEJ dan BAPAS Kelas II Jember bersama Pokmas Lipas Bengkel Jiwa berkomitmen untuk menjadikan kerja sama sebagai ekosistem pembelajaran dan pelayanan sosial yang berdampak: memperkuat kapasitas mahasiswa dan praktisi, memperluas basis riset dan pengabdian, serta mendorong pemberdayaan ABH dan klien pemasyarakatan agar memiliki kesempatan yang lebih besar untuk kembali berfungsi secara positif di tengah keluarga dan masyarakat.